Jangan berhenti Mengasah Diri

Ditulis oleh : Dadang Hermawan on Jumat, 16 Juli 2010

Alkisah, ada seorang pemuda penebang pohon yang sangat kuat.ketika melamar pekerjaan pada seorang pedagang kayu, dia langsung mendapatkannya. Hari pertama, penebang pohon berhasil merobohkan 18 batang pohon, sang majikan sangat terkesan dan berkata ,”bagus bekerjalah terus seperti itu”.

Termotivasi oleh pujian majikan membuatnya bekerja lebih keras,tapi apa hasilnya pada hari kedua dia dapat merobohkan 15 batang pohon, hari ketiga dia dapat merobohkan 8 batang pohon. Semakin hari semakin sedikit pohon yang dapt dirobohkannya. Sampai akhirnya dia tidak dapat merobohkan pohon sama sekali.akhirnya pemuda itu menemui majikannya seraya meminta maaf karena dirinya sudah tidak bisa menebang pohon satupun.
Majikannya berkata, “Kapan terakhir kau mengasah kapak ?”. ”mengasah kapak”,gumam sang pemuda, ”saya tak banyak waktu untuk mengasah kapak, saya sangat sibuk mengapak pohon,”katanya.

Orang bisa saja marah bila diajak berhenti sejenak padahal sedang asyik bekerja. Seolah seakan tak ada hal yang lebih penting dari kesibukannya tadi. Bagi penganut paham kebendaan, berhenti sejenak dari kesibukan dengan zikir dan dan shalat adalah sesuatu yag merugikan.padahal sesungguhnya hati dan fikiran perlu rehat sebentar, justru merefresh kembali, begitu pun kapak perlu istirahat untuk diasah kembali supaya tajam.

Bagaiman kondisi fisik dan psikis anda jika hanya diisi degan kerja dan kerja, apakah kerja keras anda yg menyebabkan anda lebih berhak hidup dengan modal sekecil kecilnya dan menghasilkan keuntungan sebesarbesarnya. Slogan kapitalisme dengan angkuhnya mengibarkan bendera tersebut dan terbukti dengan kebobrokannya.
Komunis yang mengabaikan Tuhan telah runtuh, demikian juga kapitalis, oleng karena menuhankan benda. Adapun hamba beriman selalu punya cara untuk mengisi masa rehatnya. “Shalat lima waktu, jumat ke jumat, ramadhan ke ramadhan menjadi kaffarat /penggugur dosa diantara waktu waktu tersebut, apabila dosa dosa telah ditinggalkan.”(HR.Ahmad,Muslim dan Tirmidzi).

Berhenti untuk merenung sejenak, akan memberikan kekuatan baru menghadapi kehidupan yang keras, dan menemukan solusi baru. Muadz bin Jabal ra, “Ijllis bina nu’min sa’ah (duduklah bersama kami, kita perbaharui iman sejenak.”(HR Bukhari).

Dikalangan musafir dikenal empat syarat dalam meneruskan perjalanannya,mencakup : Fisik, Mental, Ilmu dan peralatan.keempatnya harus dijaga sebagai bekal, tak ada yang lebih penting salah satuya, semuanya penting. Bahkan islam memperingatka agar tidak meninggalkan jejak berupa generasi yang buruk, yang lemah alias tidak mempunyai bekal untuk meneruskan perjalanan peradabannya.

Merenung sejenak diperlukan untuk mengisi energi sekaligus membangun harapan. Jadi memang perlu ‘berhenti sejenak’ mencocokan arah kompas, mengukur peta dan memeriksa bekal perjalanan. Di depan jalan masih membentang panjang.

Seringkali kita terjebak pada rutinitas dan tanpa sadar telah menjadika robot. Seorang guru lupa belajar, penulis berhenti membaca dan dokter mengabaikan kesehatan. Akhirnya mereka menjadi tumpul dan bencana menimpa mereka. Jadi siapa pun anda, jangan lupa mengasah diri.

Berbagai sumber
Dadang Hermawan

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar