Penghargaan hidup

Ditulis oleh : Dadang Hermawan on Sabtu, 20 Agustus 2011

Alkisah, seorang pemuda yang tekun dan ulet dan lulus kuliah dengan nilai cemerlang melamar posisi manager di sebuah perusahaan besar. Sesudah lulus dalam tes dan beberapa wawancara, terakhir ia diwawancara direktur perusahaan tersebut. Pak direktur sangat terkesan dengan prestasi akademik yang luar biasa dari pemuda tersebut. Mulai dari sekolah dasar sampai lulus dari universitas, si pemuda tersebut mencatat prestasi gemilang.

Dalam wawancara tersebut, “Anda dapat bea siswa di sekolah ?”, Tanya pak direktur. “Tidak, Pak”, sahutnya. “Kalau begitu, ayah anda yang membayar semua biaya sekolah ?, tanyanya lagi. “Tidak, Pak. Ayah saya meninggal ketika saya berumur 1 tahun, Ibu saya yang membiayai saya”, jawabnya. kemudian pak direktur berkata lagi, “Ibu Anda bekerja dimana ?”. “Ibu saya jadi tukang cuci”, ujarnya. Pak direktur lalu menyuruh pemuda itu memperlihatkan tangannya. Kedua tangan si pemuda tampak halus dan dalam kondisi baik.

“Apakah anda pernah bantu ibu anda cuci pakaian sebelum ini ?”, pemuda itu menjawab, “Tak pernah, Pak. Ibu saya selalu ingin saya belajar dan membaca lebih banyak buku. Selain itu, ibu saya bisa mencuci lebih cepat dibanding saya”. Pak direktur berkata, “Saya punya permintaan, nanti sesampai di rumah, cuci tangan ibu anda dan lalu keesokannya bertemu lagi dengan saya”.

Si pemuda merasa aneh padahal sebelumnya ia merasa yakin akan diterima di posisi itu. Setiba di rumah, si pemuda itu menemui ibunya. Si Ibu heran dengan kelakuan si anak. Dengan rasa bahagia ia menunjukan kedua tangannya kepada anaknya. Lalu si anak membersihkan tangan ibunya dengan perlahan dan hati-hati. Untuk pertama kalinya ia melihat tangan ibunya yang berkeriput dengan bentuk yang sudah berubah. Disana sini tampak memar dan kapalan. Air mata si pemuda bercucuran ketika melihat ibunya meringis sakit ketika ia membersihkan beberapa tonjolan di tangan ibunya.

Kali ini untuk pertama kalinya si pemuda itu menyadari, ia dibesarkan dan disekolahkan oleh sepasang tangan yang mencuci pakaian setiap hari. Memar dan tonjolan di tangan ibunya adalah harga yang dibayar ibunya untuk masa depannya yang cemerlang. Sesudah mencuci tangan ibunya, si pemuda itu diam-diam mencuci baju yang belum dicuci ibunya. Malam itu Ibu dan anak bicara cukup lama.

Pagi berikutnya, si pemuda kembali ke kantor direktur. “Coba ceritakan apa yang anda lakukan kemarin dan pelajaran yang anda dapatkan di rumah,” kata pak direktur. “Saya membersihkan tangan ibu saya dan sesudah itu mencuci semua baju yang belum selesai di cuci ibu saya,” jawabnya. “Coba ceritakan bagaimana perasaanmu,” kata pak direktur lagi. “Saya sekarang tahu, apa itu penghargaan, Tanpa ibu saya saya tak mungkin bisa seperti sekarang ini.” Kata si pemuda. “Setelah bekerja bersama dan membantu ibu saya, saya jadi sadar betapa sulit dan kerasnya pekerjaan ibu saya. Saya jadi menghargai pentingnya hubungan keluarga dan nilai-nilai kekeluargaan,” jelasnya.

“ini yang saya harapkan dari calon manger saya. Saya ingin merekrut orang yang bisa menghargai dan membantu orang lain. Orang yang tahu penderitaan orang lain dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Orang yang tidak menjadikan uang sebagai satu-satunya tujuan dalam hidupnya. Anda diterima di perusahaan ini,” kata pak direktur.

Sejak hari pertama bekerja si pemuda bekerja keras, dihargai bos dan para bawahannya. Semua bawahannya rajin bekerja dan bersatu membentuk sebuah tim. Kinerja perusahaan meningkat dan pak direktur pun senang. Dengan ketrampilan dan keteguhan belajarnya juga akhirnya sang pemuda tersebut mempunyai perusahaan sendiri dan banyak merekrut orang disekitarnya.

Sumber :
Tabloid Aura


{ 3 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar